Wednesday, 15 June 2011

DAMPAK PENGANGGURAN TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT

ABSTARK
Hasil wawancara dan studi pustaka ini mencoba mencari tahu tentang dampak pengangguran bagi ekonomi masyarakat pada umumnya. Pengangguran merupakan masalah ketenagakerjaan yang dialami oleh banyak negara. Begitu seriusnya masalah ini sehingga dalam setiap rencana-rencana pembangunan ekonomi masyarakat, selalu dikatakan dengan tujuan menurunkan angka pengangguran, namun pengangguran tetap saja terjadi, baik kota maupun desa, yang disebabkan oleh kurangnya kesempatan kerja.Tingkat pendidikan para pencari kerja dan jiwa entrepreneurship.
A.Pendahuluan
Salah satu masalah pokok yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia adalah masalah pengangguran. Pengangguran yang tinggi berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kriminalitas dan juga masalah sosial politik yang juga semakin meningkat dengan jumlah angkatan kerja yang cukup besar, arus migrasi yang terus mengalir serta dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini, membuat persoalan tenaga kerja menjadi sangat besar dan komplek disamping itu, pertumbuhan ekonomi yang terjadi sekarang tampak belum cukup untuk menyerap pertumbuhan angkatan kerja. Banyak yang menilai bahwa terobosan kebijakan di sektor rill yang dapat mengurangi angkatan pengangguran masih sangat minim, untuk tahun 2002 saja, rasio pengangguran telah mencapai 9,1% atau sudah dua kali rasio sebelum krisis. Ironisnya 9,3% atau sekitar 500.000 orang pengangguran terbuka dapat dikategorikan lulusan perguruan tinggi.
Kegentingan kondisi tingkat pengangguran di Indonesia juga jelas tergambar dari survey konsumen yang dilakukan Danareksa Research Institute ( DRI ). Survei tersebut menunjukkan bahwa dua tahun terakhir lapangan pekerjaan semakin sulit diperoleh. Indeks yang mengukur penilaian konsumen terhadap kondisi ketersediaan lapangan pekerjaan terus. memburuk sejak November 2001, yang mengakibatkan banyak pengangguran.
Pengangguran yang dialami oleh masyarakat membuat saya mempunyai keinginan untuk menelah lebih dalam lagi mulai dari dilema dan tantangan ,dampak dan terakhir kebijakan ketenagakerja Indonesia karena suatu saat saya juga akan termasuk sebagai pengangguran dan saya juga ingin mengetahui dampak dari pengangguran
B.Pembangunan Dilema dan Tantangan
Secara teoritis ada empat perspektif tentang peran pembangunan Sumber daya manusia dalam pembangunan menurut Vidhyanka Moeljarto,yaitu pertama Perspektif funcitonalis pendidikan sebagi komponen utama melalui pendidikan individu –individu akan mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk hidup dalam masyarakat yang semakin complek. Kedua bagi kaum liberal pembangunan sumber daya manusia lebih dari sekadar mendorong individu untuk mengembangkan potensinya sebagai manusia, melalui pengembangan talenta fisik, emosi, spirit dan intelektual, selanjutnya perspektif demokratis melihat peran pembangunan sumber daya manusia dalam mewujudkan persamaan dan keadilan sosial, karenanya apabila pendidikan gagal dalam mewujudkan equality of opportunity, maka hal itu akan berarti kegagalan dalam mengembangkan potensi industri. Keempat masyarakat yang kapitalis, pembangunan SDM merupakan proses reproduksi tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan mereka yang menguasai tenaga kerja dan faktor produksi adalah persfektif marxist.
Berdasarkan koran Republika, kamis, 23 November 2010 sebanyak 4,5 juta pengangguran terbuka di Indonesia adalah pengangguran terdidik fenomena pengangguran terdidik sebenarnya bukan baru-baru ini saja terjadi. Karakteristik sektor ketenagakerjaan selama ini ditandai oleh tingginya angka pengangguran, tingginya proporsi penganggur muda berusia 15-24 tahun dan terus meningkatnya proporsi penganggur terdidik yang memprihatinkan, selain besarannya itu sendiri, proporsi penganggur terdidik terus meningkat dramatis dari 17 persen pada tahun 1994 menjadi 26 persen di tahun 2004 dan kini 50,3 persen.Di satu sisi ini mencerminkan membaiknya tingkat pendidikan penduduk usia kerja di Indonesia kemungkinan sebagai akibat suksesnya program wajib belajar yang diterapkan pemerintah. Namun, di sisi lain, tingginya penganggur intelektual menunjukkan ada sesuatu yang salah. Kondisi ini juga berpotensi memunculkan keresahan sosial jika tidak ditangani dengan baik. Melalui wawancara terhadap Pak Didik dosen Manajemen USD,beliau mengatakan selain rendahnya kemampuan perekonomian menyediakan lapangan kerja dan lemahnya pasar kerja, tingginya penganggur terdidik juga menunjukkan ada kegagalan dalam sistem pendidikan kita dalam mencetak tenaga kerja yang siap kerja.
SDM merupakan topik yang tidak pernah akan pernah habis dibicarakan. Secanggih apa pun teknologi yang dihasilkan, SDM-lah yang memegang peran penting. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas SDM merupakan suatu kebutuhan yang mendesak, baik dalam menuju era globalisai atau menuju era otonomi daerah dan berlangsung terus menerus, oleh sebab itu perubahan kualiats SDM dipengaruhi olen pendidikan, pendidikan diperhitungkan sebagai faktor penentu keberhasilan seseorang, baik secara sosial maupun ekonomi. Nilai pendidikan merupakan aset moral, yaitu dalam bentuk pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dalam pendidikan merupakan investasi untuk masa depan dalam jangka panjang. Namun dalam kenyataanya terjadi ketidakseimbangan antara SDM yang dihasilkan dan kebutuhan industri atau sektor-sektor dalam ekonomi, ini terjadi karena selama ini keduanya jalan sendiri-sendiri. Di antara institusi pendidikan sendiri tak ada standar kompetensi yang jelas. Kegagalan pendidikan juga bisa dilihat dari lemahnya kemampuan mencetak wirausaha. Dari sekitar 350.000 sarjana yang dihasilkan oleh perguruan tinggi di seluruh Indonesia setiap tahunnya, hanya sekitar 5 persen yang mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.Kurikulum pendidikan nasional, kultur budaya kita, dan kebijakan pemerintah tidak mendorong tumbuh suburnya jiwa entrepreneurship. Padahal, di sini kunci kemajuan suatu bangsa, inilah penyebab ketertinggalan kita dari negara-negara tetangga antara lain karena rendahnya entrepreneurship. Pemerintah dihadapkan pada dilema, kendati sebagian besar penganggur adalah terdidik, mayoritas tenaga kerja tetap saja berpendidikan rendah. Dominannya tenaga kerja tidak terampil di Negara surplus tenaga kerja menuntut pengembangan industri ke arah padat karya. Di sisi lain, tenaga kerja terdidik umumnya hanya mahu bekerja di kantor atau sektor modern di perkotaan, sementara daya serap sektor ini rendah, atau kecakapan pekerja terdidik sering tak sesuai dengan yang dibutuhkan.Tantangan ke depan adalah bagaimana mengakomodasi dua kepentingan yaitu pekerja terdidik dan tak terdidik, dan menyeimbangkan pendidikan dengan kebutuhan industri. Tak mungkin dibebankan pada pemerintah saja. Peran perguruan tinggi dan swasta sangat penting di sini. Perlu kebijakan yang integral, tidak sepotong-sepotong.
C.Dampak pengangguran
Dilihat dari segi ekonomi, Pengangguran secara tidak langsung berkaitan dengan pendapatan nasional. Tingginya jumlah pengangguran akan menyebabkan turunnya produk domestik bruto (PDB), sehingga pendapatan nasional pun akan mengalami penurunan. Pengangguran akan menghambat investasi, karena jumlah tabungan masyarakat ikut menurun karena penghasilan sedikit.
Pengangguran juga akan menimbulkan menurunnya daya beli masyarakat, sehingga akan mengakibatkan kelesuan dalam berusaha dan ekonomi karena penghasilan yang diterima satu keluarga lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara moral maupun material, baik kebutuhan penting maupun tidak sesuai dengan kemampuan mereka, namun kebutuhan yang harus dipenuhi adalah kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar, baik yang terdiri dari kebutuhan atau komsumsi individu (makan,perumahan, pakaian) maupun kebutuhan pelayanan sosial tertentu (air minum, sanitasi, transportasi, kesehatan) akhirnya tingkat pertumbuhan ekonomi keluarga rendah karena pengeluaran untuk keseharian lebih banyak sehingga tidak ada untuk simpanan dan hanya berputar dikisaran kebutuhan dasar atau pokok. Pengangguran juga akan menyebabkan hilangnya ketrampilan yang dimiliki,sehingga pekerjaan dibutuhkan agar ketrampilan yang dimiliki tidak akan hilang begitu saja. Dari segi sosial, pengangguran bisa menimbulkan dampak yang tidak kecil. Perasaan minder (rendah diri), gangguan keamanan dalam masyarakat (kriminalitas), sehingga biaya sosial menjadi meningkat dan munculnya pengamen, pengemis, tingginya anak putus sekolah dan anak jalanan. Pengangguran merupakan masalah pokok dalam suatu masyarakat modern. Jika tingkat pengangguran tinggi, sumber daya menjadi terbuang percuma dan tingkat pendapatan masyarakat akan merosot. Situasi ini menimbulkan kelesuan ekonomi yang berpengaruh pada emosi masyarakt dan dalam kehidupan keluarga sehari-hari, pengangguran juga menjadi slah satu alas an pemicu gangguan kejiwaan. Data dari RS jiwa daerah Provinsi Sumatera Utara, dari 470 lebih pasien di rawat inap 70 persen pasien penderita karena pengangguran (masalah ekonomi)
Dari segi ekonomi negara,tujuan akhir pembangunan ekonomi negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran di negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan. Hal ini terjadi karena pengangguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian, Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya, hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah. Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional dari sektor pajak berkurang, hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus diterima dari masyarakat pun akan menurun. jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun. Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi, adanya pengangguran akan menyebabkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang- barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomi negara pun akan menurun.

D.Kebijakan Tenaga kerja

Kebijakan itu sendiri adalah semua langkah dan program yang ditujukan untuk mencapai sasaran atau yang telah ditetapkan dengan jalan mempengaruhi varibel-variabelnya. Kebijakan ketenaga kerjaan diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan dan perlindungan tenaga kerja yang sifatnya menyeluruh disemua sektor, disamping adanya peningkatan produksi juga dapat dicapai pemerataan hasil pembangunan, karena adanya perluasan partisipasi masyarakat secara aktif dalam pembangunan. kebijaksanan tenaga kerja juga seharusnya diarahkan kepada penyaluran, penyebaran dan pemanfaatan tenaga kerja lebih baik melalui perbaikan informasi serta pembinaan dan peningkatan ketrampilan, yaitu dengan perencanaa SDM yang esensial bagi penarikan seleksi, diklat dan pengembangan serta kegiatan – kegiatan personalia lainnya dalam organisasi. Perencanaan SDM merupakan serangkaian kegiatann untuk mengantisipasi permintaan –permintaan kebutuhan tenaga kerja yang tepat.

E.Penutup

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat begitu banyak dan kompleks, yaitu pengangguran. Dengan banyak pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Oleh karena itu, mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya, secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan daya beli masyarakat. Pengangguran berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan terjadinya kemiskinan. Pengangguran adalah problem yang terus menumpuk bertambah dari tahun ke tahun. Persoalan pengangguran bukan sekadar bertumpu pada makin menyempitnya dunia kerja, tetapi rendahnya kualitas SDM (sumber daya manusia) yang kita punyai.

Daftar Pustaka


Tjokrowinoto Moeljarto. 1996. Pembangunan dilemma dan tantangan. Yogyakarta:pustaka pelajar.
Bakir Zainab.angkatan kerja di Indonesia.1984. Jakarta:pustaka pelajar.
Pengangguran di Yogyakarta Terus Meningkat dalam Republik, kamis 23 November 2010.
Dampak Pengangguran.htt://www.mantap.com htt://www.tam
Pengangguran Picu Stress.Harian global Sunday,march 27th 2011

No comments: